Diskes Pelalawan Klaim Kasus Gizi Buruk Turun, Ibukota Pangkalan Kerinci Mendominasi

  • Bagikan

Pelalawan,  riaudetil. com – Dinas Kesehatan (Diskes Pelalawan) Kabupaten Pelalawan mengklaim jika pada tahun 2017 lalu kasus gizi buruk di Pelalawan mengalami penurunan dibanding tahun 2016 lalu.

Pada tahun 2017, terdapat 30 kasus gizi buruk dimana tahun 2016 terdapat 42 kasus. Namun lagi – lagi Ibukota Pangkalan Kerinci mendominasi angka kasus gizi buruk dengan 12 kasus pada tahun 2017 lalu.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan dr. Endid R Prariknyo kepada riaudetil. com baru – baru ini. Pengobatan para penderita gizi buruk tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis, karena anggaran dari Pemkab Pelalawan melalui APBD telah disediakan setiap tahunnya.

” Penanganan terhadap kasus gizi buruk pada tahun 2017 lalu dilakukan dengan maksimal. Koordinasi antara pemerintah desa dengan pihak puskesmas berjalan baik sampai dirujuk kerumah sakit. Semuanya tertangani dengan baik , ” ungkapnya.

Dikatakannya, kasus gizi buruk ini, kata banyak terjadi di masyarakat umum. Untuk itu, Diskes Pelalawan akan terus meningkatkan pemantauan serta sosialisasi kepada masyarakat umum melalui seluruh puskesmas yang ada di 12 kecamatan, sehingga kasus tersebut dapat terus diminimalisir.

” Kalau untuk di Pelalawan tak bisa dipungkiri kasus gizi buruk sebagian besar dialami keluarga dari Buruh Harian Lepas di perusahaan. Selanjutnya untuk Ibukota Pangkalan Kerinci lebih banyak dari para pendatang.Hal ini dikarenakan masyarakat masih cukup rendah menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). ujarnya.

Dikatakan Kadiskes, untuk kasus gizi buruk yang terjadi di perusahaan pada tahun 2017 lalu mengalami penurunan yang sangat signifikan. Penurunan kasus gizi buruk di perusahaan ini berhasil kita tekan setelah setelah kita melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait secara bersama-sama menangani kasus gizi buruk yang terjadi di perusahaan-perusahaan. Dan kita juga tentunya tetap terus memantau perkembangan gizi masyarakat Pelalawan dan melakukan sosialisasi kedesa-desa di seluruh wilayah kecamatan melalui puskesmas yang ada dimasing-masing kecamatan, serta ke perusahaan.

Diungkapkan, bahwa kasus gizi buruk ini cenderung disebabkan oleh dampak dari suatu penyakit seperti penyakit diare yang tidak dilakukan pengobatan. Namun, akibat masyarakat menyepelekan penyakit tersebut, sehingga berdampak pada perkembangan gizi dan berat badan anak.

” Sosialisasi puskesmas saat ini terus Kita galakkan untuk pemenuhan gizi anak dan mengantisipasi terjadinya kasus gizi buruk.Setiap tahun kasus pasti ada untuk gizi buruk namun Kita berupaya menekan angkanya. Tak ada satu daerahpun yang bebas dari gizi buruk. Namun Kita terus memberikan sosialisasi ,pendampingan dan sebagainya untuk meminimalisir kasus gizi buruk di Pelalawan, ” tukasnya. (Zoelgomes)

  • Bagikan