Soal Nasib PPKM Level 4, Eks Direktur WHO Bandingkan dengan Kondisi 3 Juli

  • Bagikan

RIAUDETIL.COM,JAKARTA – Nasib diperpanjang atau tidaknya PPKM Level 4 akan ditentukan besok (2/8). Eks Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Prof Tjandra Yoga Aditama membandingkannya kondisi saat ini dengan kondisi Indonesia pada 3 Juli lalu.

Mulanya, Prof Tjandra, menyebut ada dua dasar yang dapat dijadikan pertimbangan oleh pemerintah, yakni situasi penularan di masyarakat suatu daerah dan kapasitas respons kesehatan yang ada.

“Tentang poin 2 (kapasitas rumah sakit), RS di Jakarta dan kota besar di Jawa tidaklah sepenuh 2 atau 3 minggu yang lalu. Pasien dapat lebih mudah masuk IGD kalau perlu, dan relatif lebih mudah mendapat perawatan di ruang isolasi dan ICU. Sesuatu kemajuan yang amat baik dan patut disyukuri,” jelas Prof Tjandra kepada wartawan, Minggu (1/8/2021).

Terkait situasi penularan, data epidemiologi masyarakat, kata Prof Tjandra, perlu dicermati betul. Data yang perlu diperhatikan yakni jumlah kasus baru, jumlah tes yang dilakukan, angka kepositifan dan jumlah yang meninggal.

“Untuk menilai apakah memang angka-angka itu sudah membaik atau belum maka kita dapat menganalisanya dengan membandingkannya dengan data tanggal 3 Juli 2021 ketika PPKM darurat di mulai,” tutur Prof Tjandra.

Menurut Prof Tjandra, angka penularan, kematian, jumlah testing dan kesembuhan harus dibawah data pada 3 Juli. Jika belum, maka keadaan pandemi di Tanah Air belum teratasi dengan baik.

“Pada 3 Juli 2021 ada 27.913 kasus baru, hari ini 1 Agustus angkanya naik menjadi 30.738. Harus diingat bahwa pernah ada target agar sesuah PPKM angka dapat turun dibawah 10 ribu per hari, jadi masih jauh nampaknya,” jelas Prof Tjandra.

“Pada 3 Juli 2021 angka kepositifan totalnya adalah 25,2% dan kalau berdasar PCR/TCM adalah 36,7%. Hari ini 1 Agustus angkanya naik menjadi angka kepositifan totalnya adalah 27,3% dan kalau berdasar PCR/TCM adalah 52,8%. WHO mengambil angka kepositifan dibawah 5% untuk menyatakan situasi sudah terkendali, sedangkan angka Indonesia masih lima kali lebih besar dari patokan aman 5% itu,” sambungnya.

Selanjutnya, jumlah testing pada 3 Juli sebanyak 110.983 orang. Hari ini, angka testing naik menjadi 112.700 orang.

“Pada 3 Juli 2021 ada 491 warga kita yang meninggal dunia, hari ini 1 Agustus angkanya naik menjadi 1.604 yang wafat, jadi naik lebih tiga kali lipat,” tuturnya.

Prof Tjandra menyebut jumlah kematian harus ditekan dan harus menjadi prioritas pemerintah. Menurutnya ada 7 cara menurunkan angka kematian.

“Pertama melakukan analisa mendalam tentang sebab kematian dan faktor yang mempengaruhinya, kedua menekan penularan di masyarakat dengan pembatasan sosial, ketiga meningkatkan tes dan telusur serta keempat meningkatkan vaksinasi utamanya pada kelompok rentan. Upaya kelima adalah identifikasi dan pengendalian infeksi akibat varian delta dan varian baru lainnya, keenam menangani dengan seksama mereka yang isolasi mandiri serta ketujuh adalah pelayanan yang baik dan lengkap di rumah sakit,” pungkasnya.***(detik.com)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *